Fenomena beragama di dunia memang tidak tunggal. Agama selalu diekspresikan secara beragam oleh para penganutnya. Oleh karena itu, kita bisa lihat praktik beragama di satu tempat dan tempat lainnya memiliki karakter, cara, dan ekspresi yang berbeda-beda. Misalnya, di satu tempat ada kalangan beragama yang memakai baju putih, di lain tempat ada yang menggunakan baju hitam. Di satu sisi, ada yang beribadah dengan melepas alas kaki, di sisi lain ada juga yang beribadah dengan mengenakan alas kaki. Tentunya, perbedaan ini terkait hal-hal yang tidak prinsip dalam ajaran agama seperti ritual peribadatan yang wajib dan konsep ketuhanan dalam ajaran tersebut.

Nah, terus bagaimana sih menghadapi perbedaan? kita harus “ngegas” gitu karena kita berbeda prinsip dengan mereka? tentu tidak. Kita harus tetap santuy menghadapi perbedaan. ya, santuy, Bahasa para netizen milenial yang bisa diartikan santai. Santuy dalam beragama ini dapat diwujudkan dengan sikap beragama di jalur tengah, tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan. Tidak ekstrim dan tidak radikal. Gimana maksudnya tuh? Ya simpelnya begini, beragama itu harus memiliki empat kriteria. Apa aja empat kriteria tersebut?
Pertama, kita harus memiliki komitmen persatuan kebangsaan. Nah apa hubungannya agama dan bangsa? Ada dong, jadi agama itu hadir untuk mengangkat martabat suatu bangsa dari ancaman penindasan. Contohnya, dalam Islam ketika Islam dibawa dan disebarkan. Kok contohnya Islam aja? Ya karena penulisnya muslim aja sih, tetapi nilai-nilai ini pasti ada dan dipraktikkan oleh orang-orang suci pembawa agama seperti Yesus, Sidharta Gautama, Musa dan lain-lain. Jadi bagi pembaca yang beragama selain Islam, silahkan cari sendiri contoh
keempat nilai ini dari agamanya masing-masing ya.

Lanjut, jadi Nabi Muhammad membentuk suatu komunitas yang bernama komunitas Madinah. Nah, Ketika komunitas ini terbentuk, boleh jadi mereka membentuk suatu komitmen persatuan, meskipun di Madinah terdapat berbagai bangsa yang terdiri dari Arab, Persia, Romawi dan lain-lain. Nabi Muhammad membuat suatu kesepakatan bersama atau consensus yang disebut Piagam Madinah. Semua yang ada di kawasan Madinah ketika itu, harus tunduk pada kesepakatan bersama ini. Barang siapa yang keluar, berarti dia sudah “ngegas” terlalu kencang terhadap komitmen persatuan ini. Indonesia juga begitu. Sebelum kemerdekaan, Nusantara ini terdiri dari berbagai bangsa – bangsa yaitu Jawa, Sunda, Bugis, Banjar, Kutai, Dayak, Madura dan lain-lain. Terdapat banyak agama, ada Hindu, Budha,  Islam, Kristen, Protestan, Konghucu dan lain-lain. Ketika kemerdekaan, para pendahulu kita sepakat untuk membuat suatu consensus terbaik demi mempertahankan keragaman ini, tetapi harus tetap harmonis hidup berdampingan. Karenanya, lahirlah pancasila sebagai komitmen bersama dalam membangun persatuan bangsa. Sama dengan di Madinah zaman Nabi Muhammad, yang keluar dari komitmen Pancasila ini, dia sudah “ngegas”, dan harus segera disantuykan kembali.Kedua, kita harus santuy dengan memiliki sikap toleran. Sikap toleran ini adalah sikap yang berani berbeda, dan mau menerima perbedaan. Lagi-lagi di piagam Madinah, Nabi Muhammad menjamin hak-hak setiap bangsa dan suku yang ada di Madinah. Setiap orang harus memperlakukan  orang lain dengan perlakuan yang baik. Tidak boleh ada diskriminasi karena adanya perbedaan ini. Nabi Muhammad juga tetap santuy Ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang berbeda agama. Asalkan, mereka tetap menjaga poin pertama tadi yaitu komitmen persatuan kebangsaan. 

Selanjutnya, agar kita tetap santuy dalam beragama kita harus punya sikap anti kekerasan. Dalam Islam kita selalu dikenalkan dengan pribadi Nabi Muhammad yang sopan, santun, dan lembut dalam bersosial. Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan untuk mendahulukan atau memprioritaskan kekerasan dalam menanggapi sesuatu. Bahkan, dalamperang pun Nabi Muhammad tetap mengajarkan jangan membunuh anak-anak, perempuandan warga sipil yang tidak ikut berperang. Juga Nabi Muhammad memerintahkan untuk tidak merusak fasilitas publik seperti pohon, perkebunan dan lain-lain. Dalam memotong hewan konsumsi pun harus dilakukan dengan cara yang meminimalkan sakit terhadap hewan,
misalnya dengan menggunakan pisau yang sangat tajam agar tepat untuk memutus nadi
hewan. Jadi hewan sembelihan tidak terlalu lama menahan rasa sakit menunggu kematiannya.
Ajaran non-kekerasan ini juga ada di agama lain kan. Misalnya, ajaran kasih pada agama
Kristen.
Terakhir, sebagai orang beragama kita harus menghargai kearifan lokal. Sikap
beragama harus bisa beradaptasi dengan kebudayaan lokal yang memiliki nilai-nilai kebaikan
sesuai ajaran agama. Sukarno pernah berkata dalam sebuah pidatonya:
“saudara-saudara sebangsa dan setanah air, kalau jadi orang Hindu, jangan jadi
orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen jangan jadi
orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat budaya Nusantara yang
kaya raya ini…”
Dipidatonya, bung Karno bukan berarti mengajak kita untuk membenci orang India,
Arab ataupun orang Yahudi. Pendiri bangsa itu sadar betul bahwa agama adalah nilai yang
bisa diadaptasikan dengan kebudayaan lokal. Karenanya bung Karno tetap mengajak kita
untuk menghargai diri kita sebagai orang Jawa, Sunda, Kutai, Banjar, Dayak, Bugis, dan lain
sebagainya. Dalam Islam, Nabi Muhammad banyak sekali mengadaptasikan nilai-nilai Islam
dalam kebudayaan lokal loh. Apa contohnya? ya kita bisa lihat beberapa tradisi yang masih
ada sekarang seperti tawaf di Ka’bah dan aqiqah (tradisi pemberian nama anak dengan
memotong kambing). Hal ini menggambarkan bahwa tradisi yang masih sesuai dengan nilainilai kebaikan yang ada pada agama, tidak perlu diubah secara total menjadi budaya di mana
agama itu lahir. Nama yang sudah diberikan orang tua, tidak perlu diubah menjadi nama yang
lain. Pakaian pun begitu, tidak perlu memaksakan harus menggunakan pakaian yang tidak
sesuai dengan kultur, karakter, dan aktifitas masyarakat di Indonesia.
Nah mungkin keempat hal ini bisa kita aplikasikan untuk menjaga kita tetap santuy
dalam beragama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *