Sembari meletakkan jari-jari ini di barisan keyboard laptop, rasanya masih tidak percaya bahwa Ibu Kota Negara (IKN) Republik Indonesia nantinya akan dipindahkan ke salah satu Provinsi yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, Kalimantan Timur (Kaltim). Apa yang tidak dipercayai? Persoalan pemindahan IKN, bagi kita yang rakyat jelata ini, bukan perkara mudah. Apakah mungkin, sedangkan kondisi Kaltim yang belum memadai secara infrastruktur akan menjadi new Jakarta.

          Bukan isapan jempol semata, pemerintah dinilai cukup serius menuju pemindahan IKN yang baru. Pasalnya, dilansir melalui cnbcindonesia.com pemerintah sudah mengajukan anggaran sebesar RP 1,509 triliun, yah setara membangun dua hotel berbintang kali ya. Dimana 50,4% anggaran itu akan di prioritaskan dalam pembangunan nasional. Selain itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 juga masih membicarakan kelanjutan pembangunan IKN baru.

         Panjang lebar ngomongin soal rencana pemindahan IKN diatas, isi dikepala ini udah gak bisa ngebayangin banyaknya anggaran yang dihabiskan. Tapi, disisi lain pemindahan IKN yang mesti kita lihat juga.

          Apakah pemindahan IKN dapat diartikan memindahkan persoalan Jakarta lama ke new Jakarta? Setidaknya, saat IKN dipindahkan, ada beberapa bentuk kemungkinan ancaman yang akan terjadi di ibu kota yang baru. Salah satunya adalah isu intoleransi dan SARA.

           Mengapa demikian? Sebab Kaltim sendiri memiliki kurang lebih 3,7 juta jiwa penduduk yang dimana juga memiliki keragaman khas. Dengan hadirnya IKN baru, itu berarti akan menambah banyaknya penduduk Kaltim itu sendiri. Kemudian, dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka akan berdampak pula pada keragaman lainnya seperti agama, bahasa daerah dan masih banyak lagi. Oleh karena itu perbedaan ini, jika tidak dikelola dan dengan baik maka bisa menjadi permasalahan dikemudian hari.

           Kaltim pernah mengalami peristiwa kelam di tahun 2016, meledaknya bom di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Samarinda yang dilakukan oleh salah satu mantan teror bom buku yang beraksi di Tangerang Selatan pada 2011 silam. Akibat aksi teror bom itu, ada 4 orang anak yang menjadi korban.

Catatan kelam itu merupakan sejarah ancaman yang cukup berbahaya ditengah arus isu IKN yang akan dipindahkan ke Kaltim. Peristiwa diatas tadi juga tidak bermaksud untuk menakut-nakuti orang yang akan menetap di Kaltim sebagai IKN yang baru. Tetapi, konteks disini ialah jika IKN jadi dipindahkan artinya peluang ancaman intoleransi dan SARA semakin besar.

           Lalu bagaimana kita merawatnya? Tentu urusan merawat ini, tidak hanya tugas bagi mereka yang memiliki kepentingan dan penentu kebijakan. Tetapi kita semua. Keberagaman sebagai calon IKN baru nantinya, dapat di maknai sebagai kekayaan bagi Kaltim itu sendiri.

           Jika diulas melalui pendekatan sejarah, Kaltim juga menjadi salah satu cikal bakal berdirinya sebuah bangsa yang besar, Indonesia. Yaitu dengan hadirnya Kerajaan pertama kali yang disebut Martadipura dengan Raja yang terkenal bernama Mulawarman yang sangat bijaksana. Hal itu dibuktikan beliau dengan memberikan sedekah 20 ribu ekor sapi kepada kaum Brahmana yang tertulis jelas melalui prasasti Yupa.

           Sebagai warga Kaltim, jika kita hendak mengambil hikmah dari peristiwa sejarah itu saja kita bisa mengambil suatu sikap yang bijaksana dan bisa kita tiru hingga di era sekarang ini. Lebih-lebih ditengah perbedaan yang ada.

Selain pendekatan sejarah, kita mencoba melihat dengan pendekatan lain. Misalnya saja, Kaltim memiliki salah satu suku asli Kalimantan yaitu suku Dayak. Menurut Sjahbandi (1996:25) ada beberapa filosofi (prinsip) hidup suku Dayak yaitu: jujur, konsisten (rajin) dan solidaritas serta semangat hidup.

          Paling tidak, keberagaman yang ada di bumi etam bisa kita jaga dengan menarik pendekatan sejarah dan prinsip hidup masyarakatnya. Artinya, saat pertemuan dan perubahan terjadi di Kaltim sebagai IKN yang baru secara drastis, maka tidak akan mengubah cara pandang kita melihat perbedaan yang terjadi. Baik sebagai warga asli yang berasal dari Kaltim maupun warga diluar Kaltim dan baru akan memasuki IKN yang baru.

         Prinsip hidup masyarakat yang baik dan peristiwa sejarah yang mengagumkan dimanapun berada di Nusantara ini adalah wujud kekayaan Bangsa Indonesia. Sebab, sebuah persatuan itu akan menjadi keniscayaan tanpa kita rawat arti sebuah perbedaan sebagai rahmat dari Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *