Deradikalisasi adalah satu tindakan yang mengacu pada tindakan preventif kontraterorisme atau stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan. Tujuan dari deradikalisasi ini adalah untuk mengembalikan para aktor terlibat yang memiliki pemahaman radikal untuk kembali kejalan pemikiran yang lebih moderat. Terorisme telah menjadi permasalahan serius bagi dunia internasional karena setiap saat akan membahayakan keamanan nasional bagi negara maka dari itu program deradikalisasi dibutuhkan sebagai formula penanggulangan dan pencegahan pemahaman radikal seperti  terorisme.

            Pada tanggal 24 mei 2015 kabar mengenai pengakuan terpidana terorisme Umar Patek untuk kembali mencintai tanah air membuat banyak orang, termasuk saya, kaget sekaligus simpati mendengarnya. Ternyata peristiwa tersebut merupakan hasil upaya panjang kerja sama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan beberapa pihak terkait dalam melakukan upaya deradikalisasi. Menariknya, taubat yang dilakukan oleh Umar Patek tersebut berpotensi untuk diikuti oleh terpidana terorisme lainnya. Bagaimana caranya? Bukankah terorisme bersifat laten sehingga membuat pelakunya, termasuk para terpidana terkait, sulit untuk direhabilitas? Bukankah jiwa para terpidana terorisme sudah begitu militan?

            Janganlah pesimis, karena bagaimanapun juga pelaku teror adalah sama-sama manusia yang pasti masih memiliki hati nurani. Terlebih manusia memiliki kodrat sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya untuk membuat hidupnya menjadi lebih bermakna. Selain itu, interaksi manusia satu dengan yang lainnya merupakan bentuk aktualisasi diri sebagai makhluk hidup yang memiliki akal dan pikiran.

            Oleh karena itu atensi dan apresiasi sangatlah diharapkan oleh setiap manusia sebagai bukti eksistensi mereka. Mungkin inilah yang telah disadari sejak lama oleh kelompok terorisme, dimana mereka memanfaatkan harapan eksistensi sebagai daya tarik propagandanya. Bisa jadi mereka mengobral janji bahwa jika seseorang bergabung melakukan aksi terorisme, maka ia akan mendapatkan apresiasi, yakni pengakuan atas eksistensinya. Bisa juga kelompok terorisme memanfaatkan kegalauan seseorang dalam mengharap atensi terhadap dirinya untuk merekrut lebih banyak simpatisan.

            Harapannya adalah jika eksistensi seseorang dihargai, maka ada kemungkinan atensinya dapat disetir sesuai dengan kepentingan yang diinginkan oleh kelompok terorisme. Itulah mengapa muncul ide pelaksanaan program penanggulangan terorisme dengan nama deradikalisasi. Program ini bertujuan untuk menahan kembali berkembangnya paham radikalisme di dalam diri pelaku teror, khususnya bagi terpidana terkait. Aturan hukum tetap berlaku, namun bentuk pembinaan di dalam penjara juga wajib dilakukan agar terpidana terorisme dapat melupakan masa lalu kealamnya dan kemudian bersemangat menyambut masa depan baru yang lebih bermakna.

            Adapun hal-hal yang dibina di dalam program deradikalisasi antara lain adalah mengenai nasionalisme, cinta hidup damai, toleransi, dan pelurusan kembali makna agama yang diselewengkan. Umar Patek adalah bukti bahwa program deradikalisasi dapat diterapkan dengan baik kepada terpidana terorisme. Hal ini memungkinkan pihak-pihak terkait terpacu untuk melakukan hal yang sama terhadap terpidana terorisme yang dibinanya. Terpidana terorisme jangalah dianggap sebagai musuh yang enggan bagi kita untuk mendekatinya. Justru kita perlu menganggap bahwa terpidana terorisme adalah orang yang membutuhkan bantuan pembinaan untuk terlepas dari jerat bahaya laten radikalisme. Mereka, terpidana terorisme, merupakan orang yang butuh diapresiasi eksistensinya agar dapat pindah haluan dan fokus terhadap hal-hal yang positif. Sebagai manusia, mereka tentu akan merasa dihargai jika pemerintah mau membinanya untuk kembali ke jalan yang lurus. Jika sudah dihargai, maka adalah naluri alamiah manusia untuk memiliki emosional tersendiri untuk membalas hal tersebut dengan hal serupa atau bahkan lebih, dimana pada ujungnya adalah bentuk aktualisasi sebagai makhluk sosial. Maka sebagai generasi muda, sudah saatnya kita bahu membahu memberantas dan menolak paham radikalisme, tidak lupa juga mensosialisasikan kepada masyarakat apa itu radikalisme, bahaya dan dampaknya serta bagaimana pola mereka dalam merekrut anggota. Dan para pemerintah juga harus merangkul rakyatnya dengan cara memberikan pemahaman  secara benar nilai-nilai pancasila agar kita tetap bias menjaga kesatuan dan persatuan Negara Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *