Menjadi bagian dari keberagaman suku, agama, ras dan budaya tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh masyarakat Indonesia, tak terkecuali masyarakat kota Samarinda. Samarinda merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur dengan penduduk terbesar di seluruh Pulau Kalimantan Timur.

            Samarinda memiliki beberapa perguruan tinggi negeri salah satunya Universitas Mulawarman sebagai universitas terbesar di Kalimantan Timur dengan jumlah mahasiswa mencapai lebih dari 37.000 orang dan dua puluh empat perguruan tinggi swasta lainnya. Hal ini tak ayal membuat Samarinda mempunyai penduduk pendatang dari berbagai suku atau etnis seperti Jawa, Bugis, Banjar, Dayak bahkan dapat dikatakan hampir semua suku yang ada di Indonesia terdapat di Samarinda. Selain terdapat suku atau etnis yang bervariasi, Samarinda juga diwarnai dengan keragaman agama. Menjadi kota yang memiliki masyarakat heterogen, tentu diperlukan toleransi dan harmonisasi dalam mewujudkan terciptanya kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat Samarinda.

            Dalam hal ini masyarakat Samarinda dapat dikatakan mampu dalam mewujudkannya, hal ini dibuktikan dengan berdirinya berbagai tempat ibadah secara kokoh dan menjadi tempat damai masyarakat dalam beribadah tanpa adanya tindakan saling mneyerang atau merusak tempat ibadah satu sama lain seperti Masjid Islamic Center Samarinda, Klenteng yang berlokasi di dekat pelabuhan kota, Pura Jagat Hita Karana yang berlokasi di Jl. Sentosa, Vihara Eka Dharma Manggala dan Gereja Katedral. Seperti yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Kaltim H. Hadi Mulyadi melalui situs resmi Pemprov Kaltim “Kita Harus bangga. Sebab Kaltim ini miniaturnya Indonesia. Tetapi provinsi kita hingga saat ini tetap aman dan damai tidak terjadi konflik”.

            Walaupun masyarakat Samarinda saat ini dikatakan mampu hidup bertoleransi, hal ini tidak serta merta membuat kita merasa aman, pemerintah harus terus berjuang untuk menghindari timbulnya kebijakan-kebijakan diskriminatif terhadap umat beragama. Memperjuangkan toleransi dan terciptanya perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat tak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Perlu adanya sikap waspada dalam diri kita untuk mengenali dan mencegah terjadinya sikap intoleransi yang dapat menyebabkan timbulnya pertikaian antar sesama.

 

            Toleransi sendiri adalah sikap atau sifat menenggang, menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Dalam buku Toleransi dalam konflik: Sejarah, konten, dan kehadiran istilah yang kontroversial (2003) terdapat beberapa tingkatan toleransi yaitu tingat tertinggi dalam bentuk Anerkennung, yaitu mengakui dan menghargai keanekaragaman. Kemudian tiga tingkat toleransi dibawahnya yaitu Achtung, sikap saling menghormati antar sesama di dalam suatu lingkungan hidup. Lalu, Koexixtenz, berada bersama dengan orang-orang yang berbeda, hidup berdampingan. Sedangkan toleransi yang paling dasar, Erlaubnis, yaitu sekedar membiarkan ada orang-orang yang berbeda.

            Dalam hal ini pemuda sebagai regenerasi bangsa tentu memiliki peran besar dalam berkontribusi agar terciptanya kehidupan yang aman, nyaman dan damai. Tidak hanya dilakukan secara individual, dalam memperjuangkan hal tersebut tentu dibutuhkan secara kolektif, dapat melalui organisasi, komunitas atau wadah-wadah tertentu.

            Salah satu wadah yang peduli akan pentingnya sikap toleransi dan perdamaian yaitu Duta Damai Dunia Maya. Duta Damai Dunia Maya tersebar di 13 Regional salah satunya Regional Kalimantan Timur. Adapun Duta Damai Dunia Maya adalah kumpulan anak muda kreatif, cinta perdamaian dan aktif di dunia maya untuk membanjiri dunia maya dengan konten positif, yakni konten yang edukatif, mencerahkan dan bermanfaat untuk kemajuan bangsa dan negara.

            Pada akhirnya sikap toleransi merupakan modal dasar yang harus tumbuh dan dimiliki oleh setiap individu guna terwujudnya kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, apa pun kepercayaannya, prinsip, maupun pandangan yang dimiliki, toleransi dan perdamaian adalah harga mati yang harus terus digaungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *